Mengapa Otoritas Sosial Dapat Mengalahkan Otoritas Agama dan Ilmu Pengetahuan?

Seorang dokter menjelaskan bahwa pengobatan terbaik berdasarkan hasil pemeriksaan adalah menjalani kemoterapi. Di sisi lain, muncul saran dari kerabat atau tetangga, "Coba datang ke orang ini. Katanya sudah banyak yang sembuh dari penyakit kronis, bahkan ketika dokter sudah tidak bisa berbuat apa-apa."Tidak sedikit keluarga yang kemudian lebih tertarik mengikuti saran tersebut daripada melanjutkan pengobatan yang direkomendasikan dokter. Yang menarik untuk dipikirkan bukanlah siapa yang benar atau salah, melainkan mengapa sebuah cerita yang beredar di tengah masyarakat terkadang memiliki daya pengaruh yang lebih besar daripada penjelasan yang dibangun di atas ilmu pengetahuan.

Peristiwa seperti ini bukanlah kejadian yang berdiri sendiri. Dalam berbagai daerah, masih ditemukan kepercayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi dan diterima sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Sebagian lahir dari pengalaman, sebagian lagi berasal dari cerita yang terus diulang hingga dianggap sebagai kebenaran. Lambat laun, kepercayaan tersebut memperoleh tempat yang kuat dalam kehidupan masyarakat, bahkan ketika bertentangan dengan penjelasan ilmu pengetahuan atau ajaran agama.

Yang menarik, persoalan ini sering kali bukan tentang kurangnya informasi. Penjelasan dokter dapat diakses, ceramah ulama mudah ditemukan, dan berbagai sumber pengetahuan tersedia di mana-mana. Namun, ketika rasa takut, harapan, atau tekanan sosial ikut bekerja, manusia tidak selalu menentukan pilihan berdasarkan bukti. Dalam kondisi seperti itu, sesuatu yang telah lama dipercaya oleh lingkungan sering terasa lebih aman daripada penjelasan yang sebenarnya memiliki dasar yang lebih kuat.

Fenomena semacam ini sesungguhnya telah mendapat perhatian dalam Al-Qur'an. Beberapa ayat menggambarkan bagaimana suatu kaum tetap mempertahankan keyakinan tertentu karena mengikuti kebiasaan yang diwariskan oleh leluhur. Bahkan ketika para nabi membawa penjelasan dan petunjuk yang jelas, sebagian dari mereka tetap menjawab bahwa tradisi nenek moyang lebih layak diikuti. Al-Qur'an tidak hanya mengkritik isi keyakinan tersebut, tetapi juga cara manusia menentukan apa yang dianggap benar.

Jika dicermati lebih jauh, kritik Al-Qur'an bukan ditujukan kepada semua tradisi. Banyak tradisi justru sejalan dengan nilai-nilai Islam dan membawa kemaslahatan. Yang menjadi persoalan adalah ketika sebuah keyakinan diterima hanya karena diwariskan atau dipercaya oleh banyak orang, tanpa pernah diuji dengan wahyu, akal, maupun kenyataan. Dari sudut pandang ini, Al-Qur'an mengajarkan bahwa kebenaran tidak diukur oleh seberapa lama suatu kepercayaan hidup di tengah masyarakat, tetapi oleh dasar yang menopangnya.

Di sinilah persoalan otoritas menjadi menarik. Terkadang yang paling berpengaruh bukanlah pihak yang memiliki pengetahuan paling kuat, melainkan pihak yang paling dipercaya oleh lingkungan sosial. Kepercayaan dapat tumbuh karena kedekatan, pengalaman bersama, atau pengaruh budaya yang telah mengakar selama bertahun-tahun. Pertanyaannya kemudian bukan sekadar mengapa masyarakat mempercayai suatu keyakinan, melainkan bagaimana sebuah keyakinan memperoleh legitimasi hingga mampu mengalahkan otoritas agama maupun ilmu pengetahuan.

Barangkali tantangan terbesar bukanlah kurangnya ilmu, melainkan cara manusia menentukan sumber kebenaran. Selama penerimaan sosial menjadi ukuran utama, otoritas agama dan ilmu pengetahuan akan selalu berhadapan dengan keyakinan yang telah hidup dalam masyarakat. Karena itu, pembahasan ini bukan sekadar tentang benar atau salahnya sebuah tradisi, tetapi tentang bagaimana Al-Qur'an mengajarkan agar setiap keyakinan diuji sebelum diterima sebagai kebenaran.

Penulis : A. Izzul Haq, S.S.I., M.H.
Gmail : haqizzul00@gmail.com
yang ingin upload tulisan nya terkait isu keislaman masa kini, klik disini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saat Kepercayaan Publik terhadap Putusan Pengadilan Dipertanyakan, Bisakah AI Menjadi Solusi?

Bagaimana Mungkin Melanggar Aturan Bisa Disebut Taat?

Apakah Semua Orang Beragama Sebenarnya Radikal?