Apakah Semua Orang Beragama Sebenarnya Radikal?
Bukankah setiap orang beragama percaya bahwa agamanya adalah yang paling benar?"
Kata "radikal" sering kali langsung mengingatkan kita pada kekerasan, ekstremisme, atau kelompok yang menolak hidup berdampingan dengan orang lain. Akibatnya, siapa pun yang dicap radikal hampir selalu dipandang negatif. Namun, pernahkah kita bertanya, apakah setiap orang yang memiliki keyakinan kuat terhadap agamanya juga dapat disebut radikal? Jika jawabannya ya, mungkin jumlah orang radikal jauh lebih banyak daripada yang kita bayangkan.
Sebelum melangkah lebih jauh, saya perlu menjelaskan bahwa tulisan ini tidak membahas radikalisme dalam pengertian sosial, politik, atau tindakan kekerasan. Yang saya maksud dengan "radikal" adalah keyakinan yang berakar kuat terhadap kebenaran agama yang dianut. Dalam pengertian ini, seseorang tidak sekadar beragama karena tradisi, tetapi benar-benar percaya bahwa ajaran agamanya merupakan jalan yang benar. Pertanyaannya, apakah keyakinan seperti itu keliru?
Bayangkan seorang Muslim berkata, "Saya tidak yakin Islam adalah agama yang paling benar." Pernyataan seperti ini mungkin terdengar janggal. Sebab jika seseorang tidak lagi meyakini kebenaran agamanya sendiri, apa alasan ia tetap bertahan sebagai seorang Muslim? Hal yang sama berlaku bagi pemeluk agama lain. Seorang Kristen meyakini ajaran Kristen, seorang Hindu meyakini ajaran Hindu, dan seorang Buddha meyakini ajaran Buddha sebagai jalan yang benar menurut keyakinan mereka masing-masing. Dalam filsafat agama, sikap seperti ini dikenal sebagai truth claim, yaitu keyakinan bahwa ajaran yang dianut merupakan kebenaran.
Jika demikian, bukankah setiap orang beragama sebenarnya memiliki sesuatu yang saya sebut sebagai "sikap radikal" dalam arti keyakinan? Sebab tanpa keyakinan bahwa agamanya benar, agama hanya akan menjadi identitas administratif atau warisan keluarga. Orang mungkin tetap mencantumkan agamanya di kartu identitas, tetapi kehilangan alasan mengapa ia harus menjalankan ajaran tersebut.
Dalam Islam, keyakinan terhadap kebenaran agama bukanlah sesuatu yang perlu disembunyikan. Al-Qur'an sendiri menegaskan bahwa agama di sisi Allah adalah Islam (QS. Ali 'Imran [3]: 19). Ayat lain juga menyebutkan bahwa siapa pun yang mencari agama selain Islam, maka agama itu tidak akan diterima di sisi Allah (QS. Ali 'Imran [3]: 85). Bagi seorang Muslim, meyakini ayat-ayat tersebut merupakan konsekuensi dari keimanan kepada Al-Qur'an sebagai wahyu Allah.
Namun, keyakinan terhadap kebenaran Islam tidak otomatis melahirkan permusuhan terhadap pemeluk agama lain. Al-Qur'an juga mengajarkan, "Tidak ada paksaan dalam agama" (QS. Al-Baqarah [2]: 256). Bahkan, Allah memerintahkan kaum Muslim untuk berdialog dengan cara yang terbaik dan berlaku adil kepada siapa pun yang tidak memerangi mereka. Artinya, Islam membedakan antara meyakini suatu ajaran sebagai benar dan memaksa orang lain untuk menerima keyakinan tersebut.
Di sinilah menurut saya letak kekeliruan yang sering terjadi dalam memahami istilah "radikal". Kita sering mencampuradukkan antara keyakinan yang kokoh dengan perilaku yang ekstrem. Padahal keduanya tidak selalu berjalan bersama. Seseorang dapat memiliki keyakinan agama yang sangat kuat, tetapi tetap rendah hati, menghormati orang lain, dan hidup berdampingan secara damai. Sebaliknya, ada pula orang yang menggunakan agama sebagai pembenaran untuk kebencian dan kekerasan. Masalahnya bukan terletak pada keyakinannya, melainkan pada cara keyakinan itu diwujudkan dalam tindakan.
Karena itu, saya tidak melihat adanya pertentangan antara meyakini Islam sebagai agama yang benar dengan menghormati hak orang lain untuk tetap memeluk keyakinannya. Seorang Muslim justru dituntut untuk konsisten pada dua hal sekaligus: teguh dalam akidah dan mulia dalam akhlak. Keteguhan tanpa akhlak dapat berubah menjadi kesombongan, sedangkan toleransi tanpa keyakinan dapat mengikis identitas keagamaan.
Pada akhirnya, mungkin yang perlu kita pertanyakan bukanlah apakah setiap orang beragama itu radikal, melainkan apa yang sebenarnya kita maksud dengan kata "radikal". Jika yang dimaksud adalah keyakinan yang teguh terhadap agama yang dianut, maka hampir semua orang beragama memilikinya. Namun, jika yang dimaksud adalah kebencian, pemaksaan, atau kekerasan atas nama agama, maka itulah yang harus ditolak. Membedakan kedua hal ini penting agar kita tidak mudah memberi label kepada seseorang hanya karena ia teguh memegang keyakinannya.
Penulis : A. Izzul Haq, S.S.I., M.H.
Gmail : haqizzul00@gmail.com
yang ingin upload tulisan nya terkait isu keislaman masa kini, klik disini.
Komentar
Posting Komentar