FOMO (fear of missing out)
Fenomena semacam ini semakin mudah ditemukan di era media sosial. Setiap hari, berbagai pencapaian, barang baru, gaya hidup, dan pengalaman orang lain muncul di layar ponsel. Seseorang mungkin baru saja membeli telepon genggam, tetapi tidak lama kemudian muncul model terbaru. Belum selesai mengikuti satu tren, tren lainnya sudah datang. Tanpa disadari, kehidupan sosial dapat berubah menjadi perlombaan yang tidak memiliki garis akhir. Yang awalnya hanya keinginan untuk mengikuti perkembangan zaman perlahan berubah menjadi tekanan untuk terus memiliki apa yang dimiliki orang lain.
Namun, FOMO sebenarnya tidak selalu berakhir pada perilaku konsumtif. Dalam lingkungan yang sehat, rasa takut tertinggal justru dapat menjadi dorongan untuk berkembang. Ketika melihat orang orang di sekitarnya rajin beribadah, membaca Al-Qur'an, belajar, berolahraga, atau berusaha meningkatkan kualitas diri, muncul keinginan untuk tidak tertinggal dalam kebaikan tersebut. Seseorang mungkin mulai membaca karena melihat temannya rajin membaca, memperbaiki ibadah karena berada di lingkungan yang mengingatkan pada kebaikan, atau mempelajari keterampilan baru karena terinspirasi oleh orang-orang di sekitarnya. Dalam konteks ini, FOMO tidak lagi lahir dari keinginan untuk memiliki apa yang dimiliki orang lain, melainkan dari dorongan untuk tidak melewatkan kesempatan menjadi pribadi yang lebih baik.
Pada dasarnya, FOMO berkaitan erat dengan kebutuhan manusia untuk merasa diterima dan menjadi bagian dari suatu kelompok. Ketika hampir semua orang di lingkungan memiliki sesuatu, orang yang tidak memilikinya dapat merasa berbeda. Perasaan tersebut kemudian melahirkan pertanyaan: Apakah saya tertinggal? Apakah saya masih dianggap bagian dari kelompok ini? Pertanyaan yang sama juga dapat muncul dalam konteks yang positif. Ketika seseorang berada di lingkungan yang gemar belajar, beribadah, dan mengembangkan diri, muncul pertanyaan lain: Mengapa saya tidak ikut bertumbuh bersama mereka?
Perbedaan antara kedua bentuk FOMO tersebut terletak pada arah yang dituju. FOMO yang negatif mendorong seseorang mengejar pengakuan, status, dan kepemilikan tanpa mempertimbangkan kebutuhan maupun kemampuan. Sementara itu, FOMO yang positif dapat mendorong seseorang mengikuti kebiasaan baik karena tidak ingin melewatkan kesempatan untuk bertumbuh. Dalam satu keadaan, seseorang membeli sesuatu hanya karena takut dianggap tertinggal. Dalam keadaan lain, seseorang mulai membaca, belajar, atau memperbaiki ibadah karena tidak ingin terus berada di tempat yang sama ketika orang-orang di sekitarnya terus berkembang.
Islam sendiri tidak mengajarkan manusia untuk memusuhi harta, menolak kenikmatan dunia, atau menjauhi perkembangan zaman. Namun, Islam mengajarkan agar keinginan tidak berubah menjadi sesuatu yang mengendalikan manusia. Keinginan untuk memiliki sesuatu perlu dipertimbangkan dengan akal dan kemampuan, sementara keinginan untuk menjadi lebih baik perlu diarahkan kepada hal-hal yang membawa kemaslahatan. Karena itu, persoalannya bukan semata-mata apakah seseorang mengikuti orang lain, tetapi ke mana lingkungan tersebut sedang membawanya.
Di sinilah pentingnya memilih lingkungan. Lingkungan tidak hanya memengaruhi apa yang dibeli, tetapi juga apa yang dianggap penting. Lingkungan yang menjadikan kemewahan sebagai ukuran kesuksesan dapat membuat seseorang terus merasa kekurangan. Sebaliknya, lingkungan yang menghargai ilmu, ibadah, kedisiplinan, dan pertumbuhan diri dapat menumbuhkan dorongan untuk memperbaiki diri. Dalam situasi seperti ini, mengikuti orang lain tidak selalu berarti kehilangan jati diri. Terkadang, seseorang justru menemukan arah baru karena melihat kebaikan yang telah lebih dahulu dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah “Apakah saya mengalami FOMO?”, melainkan “FOMO seperti apa yang sedang memengaruhi hidup saya?” Apakah rasa takut tertinggal itu mendorong seseorang untuk membeli sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan, atau justru mendorongnya untuk belajar, beribadah, dan memperbaiki diri? Sebab, tidak semua ketertinggalan harus ditakuti. Tertinggal dari tren konsumsi mungkin bukan masalah besar. Namun, ketika seseorang terus-menerus tertinggal dalam ilmu, kebaikan, dan kesempatan untuk berkembang, mungkin di situlah FOMO justru dapat menjadi pengingat yang baik.
Karena itu, FOMO tidak selalu harus dilawan. Ia perlu diarahkan. Rasa takut tertinggal dapat menjadi tekanan yang membuat seseorang kehilangan kendali, tetapi dapat pula menjadi dorongan untuk keluar dari zona nyaman. Semuanya bergantung pada lingkungan yang diikuti dan tujuan yang ingin dicapai. Sebab, berada di tengah orang-orang yang terus bertumbuh terkadang membuat seseorang merasa tidak nyaman dengan dirinya yang sekarang. Namun, rasa tidak nyaman itu mungkin justru menjadi awal dari perubahan.
Komentar
Posting Komentar